BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Kampung Islam di desa Loloan, Jembrana

Desa Loloan berada di Kabupaten Jembrana, tepatnya sekitar 30 km dari pelabuhan Gilimanuk. Dari Denpasar jaraknya sekitar 96 km atau setara dengan 3 jam perjalanan mobil dengan kecepatan sedang. Wilayah dengan lahan datar ini dibatasi oleh jalan raya dan jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Banyak pertokoan di sepanjang jalan ini.

Islam telah berada di Jembrana sekitar tahun 1679 yang diawali dengan datangnya orang Bugis (Makasar). Pada waktu itu orang Bugis dan Makasar yang terkenal tangguh dalam salah satu pelayarannya berlabuh di Bandar Pancoran yang terletak di tepi Sungai Ijo Gading desa Loloan. Bukti tentang hal ini adalah dibangunnya Masjid Baitul Qadim dulu Masjid Jembrana yang didirikan pada tahun 1679. Kedatangan orang-orang perantauan ini dipimpin oleh orang yang kemudian sangat dikenal dengan nama Daeng Nahkoda. Daeng Nahkoda ini datang ke Jembrana ini dengan membawa sejumlah meriam hasil rampasan perang ketika menghancurkan armada kompeni (Belanda). Mereka meminta ijin kepada penguasa Jembrana pada masa itu yakni I Gusti Arya Pancoran agar boleh menetap di Bandar Pancoran. Disebutkan dalam lontar Basang Tamyang milik Ida Bagus Gde Griya, Mengwi bahwa pada akhir abad 17, kerajaan Buleleng menyerang Jembrana tapi gagal karena dipukul mundur oleh kerajaan Jembrana yang dibantu oleh pasukan orang-orang Bugis ini.

Kedatangan orang Islam berikutnya masih di abad XVII ini terdiri dari para mubaligh dan ulama besar beserta keluarganya. Disebutkan nama-nama mereka adalah H. Yasin, H. Syihabuddin (keturunan Bugis), Datuk Guru Syech (Arab) dan Tuan Lebai (Melayu-Serawak). Mereka ini menetap di desa Air Kuning. Profesi mereka sendiri selain menyampaikan syiar Islam juga bekerja sebagai tabib, petani dan nelayan.

Pengaruh Islam berikutnya di desa Loloan dan kabupaten Jembrana umumnya adalah ketika kedatangan Syarif Abdullah sekitar tahun 1803. Beliau adalah Panglima Perang Angkatan Laut Kesultanan Pontianak (Kalimantan). Pada tahun 1799 Sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al-Qadri (kakak kandung Syarif Abdullah) mengadakan perjanjian damai dengan Belanda. Namun Syarif Abdullah, adiknya menolak perjanjian tersebut dan memilih meninggalkan kota Pontianak. Bersama armadanya yang dilengkapi dengan meriam-meriam maka berlayarlah iring-iringan perahu Syarif Abdullah ini tidak setuju dan memilih meninggalkan Pontianak. Awalnya armada laut ini berlayar ke arah timur Pontianak dan berhasil melumpuhkan armada Belanda dan akhirnya tiba di Ternate. Tapi kemudian karena kejaran armada Belanda, pelayaran Syarif Abdullah kembali ke arah barat dan masuk ke wilayah Jembrana melalui Kuala Perancak dan selanjutnya berlabuh di Sungai Air Kuning.

Dan Syarif Abdullah (yang kemudian diberi gelar "Syarif Tua") bersama anak-anak buahnya yang keturunan Bugis (Melayu) seperti Pahang, Trengganu, Kedah dan Johor merasa takjub dengan keindahan Sungai Ijo Gading. Berlabuhnya armada ini merupakan ketuk pintu sebelum Syarif Abdullah bersama anak buahnya menetap di Jembrana. Atas ijin Raja Jembrana waktu itu Anak Agung Putu Seloka dan berdasarkan kesepakatan maka Syarif Abdullah diijinkan tinggal dan menetap di Jembrana dengan syarat ikut membantu pertahanan wilayah Jembrana dari serangan kerajaan tetangganya di Bali mau pun dalam menghadapi kompeni Belanda. Syarif Abdullah segera menurunkan meriam-meriam perangnya ke darat dan menetap disekitar tebing kanan dan kiri sungai Ijo Gading seluas kira-kira 80 hektar. Atas restu Raja Jembrana pula dibuatlah benteng pertahanan di Loloan Timur, yang hingga kini dikenal sebagai Benteng Fatimah, sesuai nama istri Syarif Abdullah yang juga merupakan putri Sultan Banjarmasin.

Perahu perangnya lalu diubah menjadi perahu niaga yang sangat tangguh berlayar mengarungi ribuan mil samudra hingga hingga mencapai Singapura. Perahu-perahu ini kemudian singgah ke tanah Melayu untuk mengangkut sanak saudara dan handai tolan para anak buah Syarif Abdullah. Perkampungan muslim Melayu di Loloan pun menjadi ramai dan mereka tinggal disini secara turun temurun.


 

balimuslim.com | Panduan Wisata Bali untuk Wisatawan Muslim

Sebuah eBook untuk Wisatawan Muslim yang ingin ke Bali

Hanya Rp 25.000 atau USD 2 saja

Pembangunan/Renovasi Masjid

Musholla Al Hidayah

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours Tweets

Search


You are here: Home Islam di Bali Islam di Kampung Loloan

Thank you for choosing us