BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Sebuah ikhtiar hamba Allah tak kenal lelah
Melacak Al-Quran Tulisan Tangan Encik Ya'cub di Kampung Muslim Loloan, Kab. Jembrana, Bali.
"Mulai 1977 ia melangkah dengan tekad yang sangat bulat. Ia optimis Al-Quran tulisan tangan yang diperkirakan usianya 208 tahun itu bakal diketemukan kembali. Sebagai langkah awal, ketika itu ia teringat nama Haji Abdussalam, dulu di kenal sebagai ulama terpandang.
"Tentunya Al-Quran tulisan tangan itu berada di rumah guru besar ini. Sekurang-kurangnya ahli warisnya yang sekarang, tahu dimana keberadaan Quran tinggalan Datuk Ya'cub. Sebabnya, adalah hanya tokoh masyarakat terpandang seperti guru besar agama saja yang tentunya pernah membaca atau menyimpa n Al-Quran." pikir Husin Jabbar ketika itu
"

Kedatangan Para Pejabat dan Majelis Ulama Malaysia.

Para petinggi Malaysia bersama rombongan termasuk juga Majelis Ulama Trengganu, memerlukan datang ke Kampung Loloan, Kabupaten Jembrana, Bali pada tahun 1987. Di pondok Pesantren Mambaululum, rombongan dari negeri jiran ini disambut meriah oleh para santri dan warga di sana. Bahkan para santri menyuguhkan atraksi silat Melayu lengkap dengan iringan kendangnya. Rombongan tamu ini berada disana, selain untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat muslim setempat, juga untuk untuk satu hal yang kedengarannya sederhana: mencari tahu makam Encik Ya'cub. Dari kunjungan ini diperoleh jawaban bahwa makam Encik Ya'cub tersebut berada tepat di bawah mihrab masjid Baitul Qadim.

Sebelumnya memang sudah ada kunjungan-kunjungan pendahuluan dari Tim Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat Melayu, yang kemudian disusul dengan kunjungan Datuk Mohamad Saleh, Ketua Majelis Ulama Trengganu, Malaysia. Peristiwa kunjungan ini menarik karena dari hasil penelitian sebelumnya, diketahui bahwa Encik Ya'cub adalah sosok figur Mubaligh Trengganu yang banyak meninggalkan karya tulis keagamaan.

Namun "sejarah" Encik Ya'cub ini dirasa belum lengkap, karena pada masa hidupnya yang terputus. Encik Ya'cub memang "menghilang" dari Trengganu untuk kemudian mengembara. Ujung-ujungnya terbetik berita bahwa periode "menghilangnya" Encik Ya'cub ini ternyata berlayar ke Kampung Loloan untuk mengembangkan syiar Islam di sini, hingga akhir hayatnya. Maka dikirimlah rombongan peneliti Malaysia ke Bali. Puncaknya, ya kunjungan Menteri Agama itu tadi.

Sepanjang masa hidupnya di Loloan, Encik Ya'cub meninggalkan "kenang-kenangan" berupa; prasasti yang ditulisnya dengan huruf Arab bahasa Melayu dan, sebuah kitab Al-Quran tulisan tangan (yang pernah ditampilkan kepada masyarakat pada waktu berlangsungnya pameran Festival Istiqlal II di Jakarta).

Mengenai prasati itu sendiri jauh sebelum perang kemerdekaan RI, masyarakat Kampung Loloan tahu bahwa prasasti itu sudah terpancang di atas pintu masuk masjid Baitul Qadim. Warga Kampung Loloan Timur yang biasa shalat berjamaah di masjid itu, juga tak pernah hirau akan hal itu. Ya, seperti yang disebut tadi; mereka anggap itu barang pajangan seni kaligrafi.

Terbukanya makna sebuah Prasasti dan Al-Quran tulisan tangan Encik Ya'cub
balimuslim.com | Prasasti Peninggalan Encik Ya'cubBarulah pada masa pendudukan Jepang (1942), warga Loloan Timur tersentak setelah kedatangan dua orang serdadu Jepang ke masjid Baitul Qadim.
Pada malam sebelum kunjungan mereka, memang sebuah pesawat Jepang sempat lama berputar-putar mengitari kampung itu dan pilot nya melihat sebuah sinar putih yang berasal dari Kampung Loloan Timur dan ditengarai muncul dari sebuah bangunan yang kemudian diketahui bangunan tersebut adalah Masjid Baitul Qadim. Merasa melihat sinar yang mencurigakan besoknya ke dua serdadu itu mendatangi Kampung Loloan Timur bersama Perbekel (Kepala Desa) waktu itu bernama H. Abdurrahman Bin Imran untuk minta diantar ke masjid Baitul Qadim dan mereka minta untuk menurunkan prasasti yang dipasang di atas di depan pintu masuk masjid.

balimuslim.com | Prasasti Encik Ya'cub dalam bahasa MelayuSetelah prasasti tersebut diturunkan dan ternyata tidak ada apa-apa yang mencurigakan baru serdadu jepang tersebut meninggalkan Kampung Loloan. Dan takmir serta jamaah masjid terpanggil untuk meneliti prasasti di atas papan seukuran 45x15 cm yang tadi nya mereka anggap sebagai sebuah tulisan kaligrafi dalam bahasa Arab Melayu. Ternyata setelah diteliti seksama mereka tersentak karena ternyata prasasti tersebut bukanlah kaligrafi Al-Quran, melainkan sebuah tulisan dari Encik Ya'cub. Peristiwa itu pun berlalu. Sejak saat itu tak terdengar lagi soal Encik Ya'cub hingga masa Indonesia membangun.

Baru pada tahun 1975, takmir masjid kedatangan Zaida Mustafa, peneliti sejarah dari Malaysia, menanyakan perihal: Benteng Fatimah, prasasti dan Al-Quran tulisan tangan peninggalan Encik Ya'cub. Benteng Fatimah dan Prasasti yang dimaksud, memang masih ada. Namun Al-Quran yang disebut-sebut dalam prasasti itu sudah sejak lama raib dari masjid. Tak jelas siapa yang memindah Al-Quran yang kabarnya dikemas dengan kulit kambing dan tersimpan rapi dalam kotak berukir. Penelita tadi "gagal" menemukan obyek penelitiannya khususnya Al-Quran peninggalal Encik Ya'cub. Tak ada orang yang dapat menjelaskan soal yang satu itu. Di sinilah masalahnya.

Awal pelacakan

balimuslim.com | Husin Jabbar, tokoh Muslim LoloanLama kemudian muncul orang yang bernama Husin Jabbar, yang waktu itu (1975) profesinya sebagai penghulu (modin) di Kampung Islam Loloan. Husin Jabbar memiliki perawakan tinggi dan tegap. Tutur bahasanya lembut dan daya ingatnya sangat mengagumkan. Masalah yang nampak sepele seperti garis garis keturunan sejumlah tokoh masyarakat, ulama dan sesepuh kampung misalnya, sangat dicermati dan dihapal di luar kepala.

Usianya sudah tidak mudah lagi. Lelaki ini dilahirkan pada tahun 1939. Ia tinggal di sebuah rumah panggung yang usianya diperkirakan 75 tahun lebih. Secara diam-diam Husin Jabbar mulai melacak raibnya Al-Quran tulisan tangan ini. Ia tergerak mencari setelah membaca sendiri prasasti yang terpancang di atas pintu masjid. "Mulai saat itulah saya lebih peka karena disitu disebut adanya Al-Quran" ujar Husin Jabbar.

Mulai 1977 ia melangkah dengan tekad yang sangat bulat. Ia optimis Al-Quran tulisan tangan yang diperkirakan usianya 208 tahun itu bakal diketemukan kembali. Sebagai langkah awal, ketika itu ia teringat nama Haji Abdussalam, dulu di kenal sebagai ulama terpandang.
"Tentunya Al-Quran tulisan tangan itu berada di rumah guru besar ini. Sekurang-kurangnya ahli warisnya yang sekarang, tahu dimana keberadaan Quran tinggalan Datuk Ya'cub. Sebabnya, adalah hanya tokoh masyarakat terpandang seperti guru besar agama saja yang tentunya pernah membaca atau menyimpa n Al-Quran." pikir Husin Jabbar ketika itu. Ia beranggapan bahwa Al-Quran pada masa itu tergolong barang yang cukup "langka" di kampung itu. Hanya ulama dan tokoh masyarakat Islam terpandang saja yang biasanya memiliki kitab suci Al-Quran ini. Alasan Husin Jabbar ini cukup masuk akal juga, karena memang pada masa itu belum ada mesin cetak yang mampu memproduksi Al-Quran sebanyak yang dibutuhkan.

Hingga suatu waktu ia datang menemui Haji Muhammad Idris, cucu sang guru besar Haji Abdussalam dan masih ada hubungan famili dekat dengan Husin Jabbar. Yang disebut Haji Abdussalam ini memang salah seorang tokoh terkemuka saat itu. Ia wafat sekitar abad 19. Haji Abdussalam memiliki anak. Salah satunya kelak juga menjadi ulama besar di Loloan Timur pada generasi setelah ayahnya wafat. Nama ulama generasi ke dua ini adalah: Haji Muhammad, ia wafat tahun 1924.
Maka tibalah Husin Jabbar di rumah Haji Abdussalam, sang guru besar kampung Loloan abad ke 19. Di sana ia berjumpa dengan Haji Muhammad Idris, cucu sang guru besar tadi.
Namun hasilnya; nihil!.

Namun ia tak berputus asa. Selang beberapa waktu lagi, terlintas dalam benak Husin Jabbar satu nama baru yang dirasanya perlu dihubungi yakni; Haji Ali bib Abdul Karim. Yang tersebut ini, dulu-dulunya adalah seorang Perbekel (kepala desa). Bagi Husin Jabbar menemui orang ini dirasa perlu. Alasannya lagi-lagi sederhana; pertama dia pernah jadi Perbekel, sehingga tahu nama sejumlah sesepuh kampung yang pernah hidup di Kampung Loloan Timur ini. Alasan kedua, rumah Haji Ali Bin Abdul Karim ini tidak jauh dari masjid. Mungkin saja Al-Quran itu "mampir" di sekitar tetangga, atau sekurang-kurangnya pernah "dengar dan tahu" tentang keberadaannya kini.
Ternyata hasilnya lagi-lagi nihil!.

Bedanya kali ini, Husin Jabbar makin bersemangat dan penasaran. Ini lantaran Haji Ali menyebut bahwa ia pernah "lihat" Al-Quran yang sedang dicarinya, tapi dimana sekarang berada, Haji Ali hanya geleng-geleng kepala. Dan sarannya waktu itu kepada Husin Jabbar "Coba kau hubungi para ahli waris takmir masjid. Ada satu nama yang perlu kau datangi. Dia itu ketua takmir masjid pada masa sebelum perang kemerdekaan. Namanya Abdul Rayis..." ujar Haji Ali ketika itu.

Husin Jabbar sedikit lega. Ia merasa ada orang selain dirinya yang mau sedikit ambil peduli terhadap pencarian Al-Quran itu. Di lain waktu, datanglah Husin Jabbar bersilaturrahmi ke rumah Ibu Mahmuda, yang bersuamikan Mukri yang waktu itu menjabat Kepala Lingkungan Loloan Timur (setara Ketua RW). Ibu Mahmuda tinggal di sebuah rumah panggung yang jauhnya sekitar 200 meter dari masjid. Ia adalah cucu Haji Abdul Rayis, mantan Ketua takmir masjid Baitul Qadim pada masa sebelum kemerdekaan. Haji Abdul Rayis ini wafat pada tahun 1935, dan pada masa hidupnya berprofesi sebagai guru agama. Semangat Husin Jabbar akhirnya sirna, selalu mendapat jawaban "tidak tahu".

Kemudian pada tahun berikutnya ia mencari ke rumah Datuk Haji Ja'far, khatib masjid yang wafat pada tahun 1957. Pencarian diteruskan hingga tahun 1978 ke kediaman Datuk Said. Tak hanya bertanya, bahkan Husin Jabbar diperbolehkan oleh pemiliknya membongkar-bongkar lemari dan peti-peti kuno, kalau-kalau Al-Quran itu "ngumpet" di sana. Datuk Said ini masih ada hubungan famili dengan Datuk Haji Ja'far , khatib masjid Baitul Maqdim. Tetap saja nihil hasilnya.

Nah, di hari berikutnya titik terang mulai muncul. Titik terang ini terkait dengan Datuk Mahmud, orang sekampung memanggilnya "Wak Ngamud". Datuk Mahmud ini, sekarang telah wafat, termasuk orang yang dituakan di Kampung Loloan Timur. Rumahnya bersebelahan dengan Datuk Said yang masih famili dengan khatib masjid Baitul Qadim itu. Namun yang jadi soal adalah, rumah panggung bergaya Bugis milik Wak Ngamud ini sudah dibongkar dan diganti dengan bangunan rumah "modern". Padahal menurut Husin Jabbar, Al-Quran yang dicarinya itu besar kemungkinan disimpan Wak Ngamud ini. Anggapan ini didasarkan dari sejumlah sesepuh yang dikontak Husin Jabbar selama berbulan-bulan.

Kesimpulannya adalah banyak narasumber menyebut-nyebut nama Wak Ngamud. Tapi kemudian apa yang harus diperbuat Husin Jabbar selanjutnya. Padahal, rumah sudah dibongkar, dan Wak Ngamud sendiri tidak punya keturunan. Jadi siapa ahli warisnya, kalau-kalau ahli waris itu menyimpan "barang-barang kuno" atau "benda-benda tua" lainnya. Lama kemudian terpikir oleh Husin Jabbar untuk menghubungi lebih dulu Muhammad bin Salim yang tinggal di Loloan Barat. Nama yang disebut ini masih ada kaitan keluarga dengan Wak Ngamud.

Husin Jabbar yang tinggal di Loloan Timur segera pergi ke Loloan Barat yang dipisahkan oleh sebuah sungai Ijo Gading, yang pada masa silamnya banyak menyimpan "kenangan" sejarah perkembangan Islam di kampung Loloan ini. Pertemuannya itu makin memberi titik terang lagi. Pasalnya, selain pada masa remajanya Mohammad Said inisering membuka-buka kitab, dan makin membuat penasaran Husin Jabbar, orang ini pun menyarankan Husin Jabbar untuk menemui Abdul Rasyid, keponakan Wak Ngamud. Namun masih ada satu nama lagi yang sejak kecil pernah diasuh Wak Ngamudyakni Chadijah, adiknya Abdul Rasyid. Chadijah menjadi "kata kunci" penting bagi Husin Jabbar. Wak Ngamud sudah menganggap Chadijah sebagai anak kandungnya, yaitu tadi lantaran Wak Ngamud tak memiliki keturunan. Saat rumah itu dibongkar, Chadijah masih ikut menyaksikannya.

Suatu ketika Husin Jabbar menemui Chadijah ini. Dan tepat dugaan Husin Jabbar, bahwa Al-Quran yang dicarinya itu pernah ada di rumahnya, rumah Wak Ngamud. "Saya pernah lihat Al-Quran yang ukurannya lebih besar dari Al-Quran sekarang. Rasanya memang itu ditulis tangan. Saya yakin itu bukan barang cetakan. Tapi di mana kitab itu sekarang, saya tak bisa jawab." ujar Chadijah kepada Husin Jabbar.

Ah, tinggal "sedepak" lagi pikir Husin Jabbar waktu itu. Setelah memastikan barang-barang tinggalan Wak Ngamud yang jatuh ke tangan ke dua keponakannya itu, maka harapan terakhir untuk melacak Al-Quran masa abad XVII ini tertuju kepada Pak Jafar, kepala tukang yang membongkar rumah Wak Ngamud.

Menjelang waktu Ashar pada 15 Oktober 1979, Husin Jabbar berniat bertandang ke rumah Pak Jafar ini. "Saya ingat betul, waktu itu cuacanya mendung," kata Husin Jabbar yang dikarunai 8 anak dan 5 cucu ini. Ia kini menjalani profesi sebagai penghulu atau modin. Profesi ini sudah dijalani selama lebih kuarang 20 tahun. Dari profesi inilah Husin Jabbar menghidupi keluarganya dan dapat mengirim dua anaknya untuk belajar di pondok pesantren Asembagus dan pondok pesantren Riadlussalam (Kepah). Belum sampai tiba di rumah Wak Jafar, kebetulan saja saat itu Husin Jabbar berpapasan dengan orang yang dicarinya.

Saat itu Wak Jafar sedang menuntun dokar. Percakapan saya dengan dia cuma singkat saja. Tak enak bercakap panjang-panjang di tengah jalan. Lain dari itu dia nampak tergesa-gesa mencari nafkah. Juga gerimis mulai turun," kenang Husin Jabbar tentang pertemuannya dengan Wak Jafar waktu itu. Jafar sendiri punya pekerjaan tetap sebagai kusir dokar. Tapi dia punya keahlian di bidang pertukangan. Tak heran jika dia dipercaya membongkar rumah panggung Wak Ngamud.

Dari percakapan sepintas itu, Husin Jabbar dapat kepastian yang melegakan hati. Harapan terakhirnya tak sia-sia. Al-Quran itu ternyata masih disimpan Jafar di rumahnya. Wak Jafar menerima "amanah Al-Quran" itu dari tangan Wak Ngamud. Mereka berpisah. Jafar meneruskan perjalanan mencari nafkahdengan dokarnya. Sementara Husin jabbar dengan langkah tergesa-gesah meninggalkan rumah Jafar, hujan lebat turun. Petir menggelegar bersambung-sambung. Langit gelap karena mendung yang pekat.

"Semasa hayat, saya tak pernah lupa peristiwa hari itu. Saya basah kuyup sepulang dari rumah Jafar. Waktu pertama melihat Al-Quran tulisa tangan itu, saya langsung membekapnya erat-erat. Subhanallah.... hanya itu yang terucap dari mulut saya. Saya bersyukur pada Allah SWT. karena pencarian saya tidak sia-sia. Saya percaya Al-Quran ini akan membawa keberkahan. Saat itu juga air mata saya berlinangan. Dua tahun saya mencarinya....", tutur Husin Jabbar dengan suara datar dan dalam. Kenangan perasaan lamanya seperti terulang kembali.

Pencarian dari tahun 1977-1979, yang dilakukan Husin Jabbar merupakan sebuah potret sederhana namun mulia tentang ihtiar anak manusia yang mencoba berkiprah menyemarakkan syiar Islam di kampungnya. Kini, lengkap sudah "amanah" Encik Ya'cub. Sebuah Al-Quran, kitab suci petunjuk umat manusia di bumi; sebuah prasasti, yang memberi inspirasi bagi Husin Jabbar untuk melacaknya kembali; telah tersimpan di Masjid Baitul Qadim yang saat ini ketua Takmir nya dipercayakan pada Damanhuri, anggota DPRD TK I Provinsi Bali.

Sumber: Buku Loloan, Sejumlah Potret Umat Islam di Bali ( Yayasan Festival Istiqlal II 1995. Penulis Arifin Brandan, Fotografer Abu Bakar)

 

balimuslim.com | Panduan Wisata Bali untuk Wisatawan Muslim

Sebuah eBook untuk Wisatawan Muslim yang ingin ke Bali

Hanya Rp 25.000 atau USD 2 saja

Pembangunan/Renovasi Masjid

Musholla Al Hidayah

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours Tweets

Search


You are here: Home

Thank you for choosing us