BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Seputar Arsitektur Masjid

Seputar Arsitektur Masjid
Masjid Salman ITB, konsep Vertikal dan Horizontalisme

Pertumbuhan masjid dalam arsitektur di Indonesia sejalan dengan perkembangan ajaran Islam yang masuk dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Bentuk tradisi daerah yang pada saat Islam masuk berbaur dengan unsur Hindu, kemudian menjadi wujud–wujud arsitektur masjid di Indonesia. Berbagai kebiasaan yang melengkapi bangunan tradisional daerah, juga menjadi kelengkapan dari masjid – semisal bahan bangunan lokal, atap khas daerah serta faktor posisi yang ada dalam kehidupan daerah.

Sejumlah masjid yang dibangun di berbagai daerah senantiasa menonjolkan unsur–unsur daerah dengan nilai–nilai tradisionalnya. Oleh karena keterikatannya dengan budaya lokal tradisional sangat kuat, masjid dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama, karena itu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid tampil sebagai bangunan yang bercorak tradisional daerah. Sebutlaah seperti arsitektur. Masjid Agung Demak, wujud arsitekturalnya merupakan pengembangan bentuk pendopo. Demikian pula masjid Menara Kudus adalah wujud akulturasi Islam dengan Hindu yang gerbangnya bercorak bangunan Majapahit.

Universal

Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, banyak masjid didirikan dengan konsep pemikiran para intelektual muda, yang sangat memperhatikan fungsi praktis. Karena itulah kemudian masjid tampil dengan arsitektur yang bervariasi, terutama dalam corak rancangan kubahnya. Hal ini dapat dilihat salah satunya adalah wujud arsitektural masjid Salman sebelah selatan kampus ITB, Bandung, masjid yang ada diseberang Jl. Ganesa ini memiliki wujud arsitektural yang berani tampil melepaskan diri dari unsur–unsur gaya yang memberikan ciri khusus pada masjid–masjid sebelumnya seperti pengunaan kubah.

Masjid Salman ITB yang dibangun pada dekade 1960an menerapkan konsep pemikiran dua orang dosen ITB, yakni dosen jurusan Seni Rupa Prof .Sadali dan dosen Arsitektur Numan, sebagai penghormatan terhadap kobsep pemikiran mereka berdua maka nama mereka diabadikan menjadi nama masjid – Salman yang merupakan singkatan dari nama Sadali dan Numan. Keunikan wujud arsitektur Masjid Salman adalah pada atap yang terbuat dari beton berbentuk cekung. Bentuk atap nampak menyiratkan makna tangan seorang manusia yang sedang berdoa. Bentuk atap cekung ini diimbangi dengan bentuk menara yang sederhana, seakan tangan manusia yang menadah ke atas.

Dasar pemikiran masjid ini adalah menerapkan konsep ‘Vertikal’ Dan ‘horisontalisme’. Konsep vertikal merupakan konsekuensi hubungan manusia dengan Tuhan yang ada di atas. Manusia yang kecil, tak berdaya dihadapan Tuhan Yang Maha Esa Kuasa, sehingga manusia wajib mengagungkan Tuhan dalam segala sikap dan perbuatannya. Sedangkan konsep ‘Horisontal’ merupakan hakikat hubungan antarsesama manusia, sesuai dengan ajaran agama . Konsep ‘vertikal-horisontal’ ini merupakan hakikat hubungan antarsesama manusia sesuai dengan ajaran agama. Konsep ‘vertikal-horisontal’ ini merupakan konsep universal yang ada pada semua ajaran agama. Dasar pemikiran inilah yang menyebabkan wujud arsitektural Masjid Salman ITB tidak menggunakan kubah, lengkung–lengkungan dan ornamen. Tetapi pola-pola garis vertikal–horisontal pada wujud arsitektural masjid.

Dasar pemikiran ‘vertikal-horisontal’ pada masjid Salman ditampilkan secara tegas melalui kolom-kolom beton yang memikul atap, serta diimbangi dengan penerapan unsur dekoratif dinding kerawang yang sekaligus berfungsi untuk meredam sinar matahari secara horisontal. Wujud Masjid Salman ini merupakan gambaran dari perwujudan fungsi masjid yang memiliki kegunaan untuk segala kegiatan, baik berupaya kegiatan keagamaan maupun kegiatan umat secara umum, yang tercemin dari pengorganisasian ruangnya.

Di depan serambi atau teras masjid terdapat pelataran yang cukup luas yang berhubungan dengan undak-undakan teras Masjid. Di ruang utamanya untuk salat, terdapat mihrab yang dilengkapi mimbar sederhana tanpa hiasan. Di atas serambi terdapat ruang khusus bagi wanita yang hadir di masjid tersebut. Masjid ini ditunjang beberapa ruang, seperti ruang perpustakaan, ruang kuliah dan tempat pendidikan agama. Masjid Salman juga menyediakan ruang untuk kegiatan jasa, seperti kantin dan toko buku, untuk kesajahteraan. Menara masjidnya agak terpisah dari bangunan utama, tetapi tetap menjadi bagian dari kesatuan bangunan masjidnya.

Sederhana

Jadi pada hakikatnya, kesederhanaan bentuk Masjid Salman mengandung makna universal yang menyiratkan makna hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal manusia dengan sesamanya, yang terdapat pada semua agama di dunia. Sedangkan keberanian mewujudkan atap cekung pada masjid, jelas mendapat pengaruh dari konsep pemikiran yang mengusung panji arsitektur modern. Dari kaca mata arsitektur modern wujud arsitektur menjadi ini telah melepaskan diri dari aturan–aturan tradisional.

Melalui kesederhanaan wujud arsitektural, berusaha diungkapkan makna universal dari tempat ibadah umat muslim, fungsional dan tidak mengesampingkan kaidah–kaidah Islam. Dengan demikian, wujud arsitektural Masjid Salman muncul dari pemikiran intelektual Islam yang telah memahami hakikat keuniversalan semua agama dan memiliki pandangan jauh ke depan, sehingga wujud arsitektur masjid tidak akan lapuk oleh zaman.

Pada hakikatnya kesederhanaan wujud arsitektural masjid telah muncul sejak masjid di bangun pertama kalinya oleh Nabi Muhamad SAW. Masjid yang dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW justru sangant sederhana. Prototipe masjid beliau adalah ‘masjid lapangan’, sebab unsur utamanya adalah lapangan di bagian tengah denah dan dikelilingi tembok pembatas. Konsep ini juga merupakan kebiasaan adat lama Arab yang memanfaatkan bentuk lapangan terbuka di antara dinding–dinding pembatas, untuk menampung aktivitas pertemuan dan aktivitas kehidupan lainnya.

Jadi, intuisi manusiawi Nabi Muhammad didasari atau prinsip mendirikan sesuatu di atas tanah, dengan tujuan untuk memberi tempat dan melayani kebutuhan masyarakat yang terjadi secara spontan pada saat itu. Dengan demikian, bentuk arsitektur masjid pada mulanya bukanlah merupakan bangunan yang megah, penuh keindahan dengan ciri–ciri keagungan arsitektur pada penampilan fisiknya , tetapi justru sangat sederhana dan fungsional. (Sumber: Bali Post, 2 Desember 2001).

 

Facebook FanBox

Muhammad Kenzo
Keanu Surya Dharma
Amir Eija
Yanto Sae
Cg Abdul Ghani
Piyantun Azli Gandrung
Ana Faiqoh
Abank Meody
Jordan Sharif
Tias Yunia
Ali Hanafi Bonangan Jaya
Abdul Jabar Sudin
SotaVaksin
Mbah Jampi Marem

Bali Muslim Tours Tweets


You are here: Home Artikel Muslim Seputar Arsitektur Masjid