BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Menengok Kampung Islam Kepaon

Bali yang Mayoritas Hindu

Potret kampung Islam Kepaon cukup unik jika menilik aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. Masjid Al-Muhajirin yang ada di sana, selalu dimanfaatkan sebagai sentral dari segala aktivitas. Mulai dari berbuka puasa dengan cara makan bersama-sama (makibung), salat taraweh, tadarus (baca kitab suci bersama-sama) dan khataman (tamat membaca Alquran tiap sepuluh ahri sekali). Yang lebih unik lagi, kehidupan masyarakatnya tampak damai di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hidu.

Berikut laporannya.

Sejarah kampung Kepaon sangat erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Badung. Hal itu sebagaimana tertuang dalam lontar berhuruf Bali "Kisah Kamaruz-Zaman" (peralihan zaman), serta "Kisah Zul-Ambiyak" (kisah para nabi) yang ditulis dalam huruf Melayu.
Ketua Takmir Masjid Muhajirin Kepaon Haji Ishaq mengisahkan, masjid itu sebelumnya bernama Hamsul Mursalin. Kehadiran kaum pendatang asal Madura, Bugis, Melayu, serta Bali menuntut peralihan nama masjid sebagai pusat sarana ibadah diembel-embelin "Muhajirin". Kehadiran tokoh Islam asal Gujarat Haji Abdurahman menjadikan tgempat peribadatan tersebut menjadi masjid Jamik Al-Muhajirin. Selain Masjid Al-Muhajirin yang berdiri megah, di kampung Islam Kepaon juga terdapat lima musala.

Haji Ishaq didampingi Ketua pembangunan Masjid Al-Muhajirin Saiduddin menceritakan, saat rombongan yang menumpang perahu dari Jawa diterjang angin puyuh, mengakibatkan perahu rusak parah. Selanjutnya, mereka mendarat darurat dan terpencar-pencar. Ada yang terdampar di pesisir Benoa, Tuban, dan ada pula di Sanur.

Seorang pimpinannya diketahui bernama Raden Sastroningrat asal kota gudeg Yogyakarta. Sastroningrat dkk. dilibatkan kerajaan Badung dalam pertempuran melawan Puri mengwi. Alhasil, Badung berhasil menaklukkan Mengwi. Atas kemenangan ini, Raden Sastroningrat dinikahkan dengan putri Raja Pemecutan III bernama Anak Agung Ayu Rai. Raden Sastroningrat memboyong istrinya ke Mataram (Yogyakarta), kemudian diajak ke Madura sekaligus Anak Agung Ayu Rai resmi memeluk Islam. Bahkan Anak Agung Ayu Rai berhak menyandang gelar Raden Ayu Mas Mirah.

Saiduddin yang juga Ketua Yayasan Pedndidikan Al-Muhajirin dipercaya mengelola TK dan sebelumnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) - sekarang berstatus "neger" Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) - di Denpasar menambahkan, pasangan Sastroningrat dan istrinya kembali ke Bali, dan sang putri diberi tempat di Kebon (yang sekarang dikenal dengan nama Kepaon). Lokasi ini terkenal angker dan tenget karena dihuni banyak mahluk halus. Sementaran Raja memberi lokasi bagi suaminya Raden Sastroningrat di Ubung sampai wafatnya juga dimakamkan di Ubung. Istrinya A.A. Ayu Rai menurut Kelihan Adat Haji Abdul Hadi, dibunuh saat salat dan mengenakan rukuh (busana untuk salat wanita yang serba putih). Gara-gara memakai baju serba putih, A.A. Ayu Rai sempat dikira akan ngeleak. "Saat salat mengucapkan Allahu Akbar, kemungkinan salah mendengar dikira lakar mekeber, sehingga kontan ditebas dan meninggal," urai Haji Abdul Hadi.

Kisah dan sejarah menarik kampung Kepaon, serta keterikatannya dengan Puri Pemecutan, mendorong Haji Ishaq dan Saiduddin menginventarisasi bukti-bukti otentik peninggalan sejarah setempat. Bahkan luasnya tanah wakaf (Harta peninggalan) warga untuk dihibahkan demi kepentingan umat, Saiduddin dan Haji Ishaq berniat mendirikan pusat kajian studi Islam (Islamic Center). "Islamic Center ini terdiri atas pusat pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi, kami lengkapi juga perpustakaan mini semacam museum kecil. Luasnya hektaran, lokasi tanah wakaf memang tidak satu kompleks tapi terpencar," jelas Haji Ishaq dan Saiduddin. Sebagian generasi muda Kampung Islam Kepaon juga berguru menimba ilmu agama di pondok-pondok pesantren di Jawa, seperti Pondok Gontor, Tambak Beras, Asembagus, Genteng, serta Paiton.

Hinga kini, warga Kampung Islam kepaon tetap menjalin hubungan dengan Puri Pemecutan. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya, atau potong gigi (masangih) tokoh Kampung Islam Kepaon seperti Haji Abdul Hadi, Ali Dukun, Jakfar, dan Haji Muzani pasti diundang. Tokoh-tokoh ini rajin berkunjung ke puri. "Status kami malah diistimewakan, posisi duduk kami setingkat dengan raja," ujar Haji Abdul Hadi.

Kesenian asal Kampung Kepaon, seperti rodat, rebana hadra sering juga ditampilkan di Puri Pemecutan mengiringi upacara. Tradisi di bulan suci Ramadan ini, warga setempat biasanya menyediakan cendana, gergaji kayu, minyak wangi, sampalan, kemudian dibakar dan ditaruh di sudut-sudut bangunan rumah. Selanjutnya, ditaburi aneka bunga mulai cempaka, melati, sampai mawar. Akan tetapi, tradisi ini tak lagi semarak zaman dulu.

Posisi Kampung Islam Kepaon termasuk wilayah Desa Pemogan, namun masuk Desa Adat Kepaon. Mereka hidup rukun berdampingan dengan umat Hidu setempat. Hal itu ditunjukkan ketika masing-masing merayakan hari raya keagamaannya. Diantara mereka saling memberi dengan tetangganya yang sebagian besar beragama Hindu. Tak cuma itu, sering dalam upacara kematian, para pelayat yang mengantarkan ke kuburan membaur antara yang berpakaian adat Bali dan muslim yang mengenakan songkok (kopiah). Mereka pun hidup damai di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu.
Suasana harmonis dan penuh toleransi itu juga diakui Bendesa Adat Kepaon Anak Agung Ketut Sujana yang juga berasal dari Puri Pemecutan. "Kehidupan kami khususnya toleransi beragama antara umat Hidu dan Islam sangat rukun, termasuk saat nyepi, saling menghargai dan tetap koordinasi di antara paratokoh," papar Gung Sujana.

Warga Kampunh Islam Kepaon diperkirakan 300 KK atau sekitar 2.000 jiwa. Mereka menggeluti profesi mulai jadi petani sawah,. Sopir juga cukup dominan baik taksi, mikrolet, mau pun angkutan umum. Semntara kaum ibu lebih banyak menekuni usaha garmen dan berdagang. Guna menunjang roda perekomunian, mereka masuk nasabah LPD Desa Adat Kepaon berbaur bersama nasabah yang tersebar di sembilan banjar. Aturan pun sama sebagaimana aturan nasabah LPD lain yang diikat awig-awig.

Menurut Ketua LPD Desa Adat Kepaon Wayan Budi, warga Kampung Islam Kepaon dijadikan mitra dalam menopang LPD yang dipimpinnya."Semua warga kedudukan sama, dan merasa ikut memiliki LPD," ucapnya. Warga Kampung Islam yang ingin meminjam bisa mengajukan permohonan dengan mengetahui kepala dusun, sekdes, atau kelihan adat. "Seandainya ada peminjam menunggak, kami mencoba mendatangi ke rumah secara kekeluargaan," tegasnya.

Disebutkan, hingga kini di LPD-nya tercatat 485 nasabah penabung, 525 peminjam dan 74 deposan. "Total aset kami mencapai Rp 4 milyar, sedangkan kekayaan bersih LPD kami Rp 1,1 milyar," ungkap Budi. Keuntungan tahun 2001 hingga kini tercatat Rp 340 juta, padahal yang ditargetkan cuma Rp 240 juta. "Jadi keuntungan kami sudah melebihi Rp 100 juta," cetusnya. (Sumber: Daniel Fajri, Bali Post 8 Desember 2001).

 

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours
    Mohamad Rohaizat Abdul Wahab
    Zane Adrian Abadi
    ZaenalirwAn Ingin Hidayahmu
    Sokhti
    Faisal Admar
    Bagoes Atmaja
    Alp Arslan
    Nurhamdani
    Shah Ariah
    Tias Yunia
    Amellhia Chauva Aningthyazz
    Mizzta Najib
    Teratai Outbound
    Siti Dalmiatun

    Pengujung sejak 1/1/09
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterHari ini132
    mod_vvisit_counterKemarin383
    mod_vvisit_counterMinggu ini132
    mod_vvisit_counterBulan ini7374
    mod_vvisit_counterTotal370401
    You are here: Home Artikel Muslim Menengok Kampung Islam Kepaon