Nikmat Ramadhan di Pegayaman"Saya Nengah Panji Islam," ujar lelaki setengah baya itu. Memakai sarung dan kopiah, usai menjalankan sholat Ashar di Masjid Jamik Safinatussalam, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Lalu yang lain juga memperkenakan diri, Ketut Maulana, Ketut Kholidah, dan Nengah Maghfiroh. Ya, nama-nama mereka, paduan nama khas Bali dan nama Arab. Tak hanya itu, yang perempuan dewasa juga mengenakan jilbab. Dan laki-laki nya, kebanyakan berkopiah.Beberapa kali, anak-anak perempuan tersenyum lebar dan menyongsongkan tangannya untuk bersalaman dan mencium tangan orang dewasa yang menyapa. Jam menunjukkan jam 16.30 WITA. Beberapa pria masih duduk berbincang di Masjid Safinatussalam, di tengah perkampungan bersih dan tertata baik di desa Pegayaman ini. Menjelang buka puasa, warga memilih berkumpul di Masjid atau Mushola yang jumlahnya sangat banyak untuk satu desa. Ada sekitar 30 Musolah tersebar di tiap jalan-jalan kampung. Di bulan Ramadhan, bagi warga Pegayaman terasa sangat istimewa. Hari-hari yang biasa menjadi luar biasa karena kehidupan jadi berbalik. Siang jadi malam, dan sebaliknya malam adlah pusat aktivitas untuk anak-anak, remaja, dan orang tua. Mereka suntuk dengan kegiatannya masing-maasing. Sementara itu, remaja dan para orang tua menjalankan tarawih. Masjid, Musolah, dan sejumlah rumah warga masih akan ramai sampai jelang waktu Sahur dengan kegiatan Tadarusan. "Setiap hari menyelesaikan 3 juz. Jadi dalam satu bulan sampai khatam tiga kali," ujar I Nengah Panji Islam, Sekretaris Desa Pegayaman. Secara kasat mata, mereka adalah muslim yang taat beribadah pun kebiasaannya. Mereka lahir dan besar di Bali, karenanya dengan bangga melekatkan nama-nama khas Baliseperti Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut. Empat dusun di desa Pegayaman juga bernama identik dengan Bali. Dusun atau Banjar Dauh Margi (Barat Jalan), Banjar Dangin Margi (timur jalan), Banjar Kubu Madya, dan Banjar Amertasari. Dua desa terakhir dihuni banyak umat Hindu. Seorang tetua desa, almarhum Ketut Raji Jayadi, mengibaratkan Pegayaman sebagai kota santri di Bali. Ketut Raji disebut sebagai Ketua Pelajar Islam Indonesia pertama di Bali pada tahun 1962 - 1965. Ketut Raji dalam catatannya menulis, desa ini berdiri pada 1639, ekses dari masuknya Agama Islam ke Buleleng sekitar 1587. Islam makin meluas, salah satunya melalui perkawinan. Tahun 1958, seorang Gubernur Sunda Kecil dari Aceh, TM Daudsyah berkunjung ke Pegayaman. Ia terkesima dengan kehidupan warga dan menyebut desa ini laiknya Serambi Mekkah di Bali. Sekitar 100 kilometer dari kota Denpasar, dikelilingi sejumlah bukit, sekira 5.000 warga desa Pegayaman, adalah patung hidup akulturasi agama dan adat di Indonesia. Desa seluas 1.584 kilometer persegi ini adalah kebanggaan ketika ide keberagaman dan pluralisme kerap mendapat batu sandungan di Indonesia. (Sumber: media HALO, Oktober 2008) |






![]() | Hari ini | 53 |
![]() | Kemarin | 149 |
![]() | Minggu ini | 751 |
![]() | Bulan ini | 3667 |
![]() | Total | 44571 |