BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Indahnya Perbedaan di Masjid Nurul Yaqin

GIANYAR - Persoalan beda rakaat dalam salat tarawih setiap bulan Ramadan kerap memicu konflik di kalangan umat Islam sendiri. Masing-masing penganut jumlah rakaat, yakni 11 dan 23 rakaat. Hal seringkali terjadi kesalahpahaman. Tapi di masjid Nurul Yaqin, Semebaung, Gianyar, perbedaan jumlah rakaat bukan lagi jadi persoalan.

Bagaimana caranya? Polemik seputar jumlah rakaat dalam tarawih tak pernah ada habis-habisnya menjadi bahan perbincangan setiap bulan Ramadan tiba. Masing-masing penganut jumlah rakaat, yakni 11 dan 23 rakaat sama-sama menganggap jumlah rakaat yang dilakoninyalah yang paling benar. Tak jarang bahkan berujung pada sikap saling ejek dan menyalahkan.

Namun, di beberapa masjid, perbedaan semacam itu tak lagi menjadi sengketa. Di masjid Nurul Yaqin, Semebaung, Gianyar, misalnya. Di masjid terbesar di Gianyar selain Masjid Agung Al'Ala ini, biasa menampung ratusan jamaah salat taarawih. Yang salat di masjid ini pun berasal dari banyak daerah di sekitar Gianyar. Seperti Ubud, Blahbatu, Tampaksiring, dan warga muslim Semebaung sendiri.

Warga muslim di Semebaung sendiri berasal dari banyak daerah, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, dan daerah timur. "Di kampung seperti Indonesia, banyak asal suku dan daerah asal, jadi kebiasaannya juga berbeda-beda," kata Jakfar Ibrahim, Ketua RT setempat.
Termasuk dalam hal kebiasaan salat, warga muslim Semebaung punya keyakinan dan kebiasaan yang beragam. Seperti dalam pelaksanaan salat Tarawih, banyak yang terbiasa dengan 23 rakaat (termasuk salat witir), tapi banyak juga yang terbiasa 11 rakaat. "Tidak cuma salat Tarawih, dalam ibadah-ibadah rutin di lainnya di masjid juga banyak beragam di sini," ujar Takmir Masjid Nurul Yaqin, Muslich Abdullah, Sabtu malam (21/7).

Menurutnya, hampir setiap tahun, penetapan jumlah rakaat dalam salat tarawih di masjid Nurul Yaqin selalu jadi polemik. Namun sejak empat tahun terakhir, persoalan tersebut bisa diatasi. "Teknisnya semua salat berjamaah bersama, lalu sampai di rakaat ke delapan break dulu untuk mempersilahkan yang lain salat witir tiga rakaat, yang lainnya duduk menunggu," paparnya.
Cara ini sendiri sudah empat tahun terakhir diberlakukan di Masjid Nurul Yaqin. "Awalnya memang sempat menimbulkan protes, tapi lama-kelamaan warga bisa menerima semua," teramg Muslich.

Dengan begini, perbedaan rakaat salat tarawih akhirnya bisa diatasi. Masjid pun ramai. Hal seperti ini sejak belasan tahun lalu dilangsungkan di Universitas Islam Negeri Surabaya (dulu IAIN Sunan Ampel, Surabaya). Oh, indahnya. (yog/djo)
Sumber: Radar Bali, Jawa Pos (23/7/2012).

 

balimuslim.com | Panduan Wisata Bali untuk Wisatawan Muslim

Sebuah eBook untuk Wisatawan Muslim yang ingin ke Bali

Hanya Rp 25.000 atau USD 2 saja

Pembangunan/Renovasi Masjid

Musholla Al Hidayah

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours Tweets

Search


You are here: Home Artikel Muslim Indahnya Perbedaan di Masjid Nurul Yaqin

Thank you for choosing us