BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Bangun Kerukunan Antarumat Melalui Budaya
Bangun Kerukunan Antarumat Melalui Budaya
Selasa, 06 Desember 2011

BUDAYA diyakini mampu menjadi jembatan membangun kerukunan antarumat beragama di Indonesia termasuk di Bali. Melalui budaya, perbedaan keyakinan umat beragama bisa dipertemukan tanpa harus kehilangan identitas dan keyakinan agama masing-masing.
Demikian benang merah kajian dua mingguan Korps Alumni HMI KAHMI) Bali yang menghadirkan budayawan muslim Ketut Syahruardi Abbas di Gedung MUI Bali, Minggu (27/11).
“Sederhananya berbicara budaya itu berbicara cara, gambarannya bagaimana cara makan, cara berpakaian, cara berinteraksi, cara berpikir dan sebagainya,” kata Ketut Abbas.
Masalahnya, kata Ketut Abbas, cara seseorang inilah yang kerap membuat ribut antarsesama. Hal ini disebabkan, yang dipersoalkan cara, bukan esensi. Yang lebih penting itu esensinya, cara itu bisa berkembang.
“Contoh, menutup aurat itu syariat, namun Islam tidak mendetailkan bagaimana cara menutup aurat. Nah, ini yang sering menimbulkan salah paham, sehingga orang ribut soal bagaimana cara yang benar dan melupakan esensinya,” kata Ketut Abbas di depan sekitar 25 anggota KAHMI dan HMI itu.
Tentang pergaulan antarumat di Bali, Ketut Abbas memaparkan yang paling penting kesepahaman terhadap budaya masing-masing. Untuk itu dibutuhkan kecerdasan untuk saling mempelajari budaya masing-masing sekaligus menyaring dengan aturan agamanya.

Ia memaparkan bagaimana kecerdasan pendatang-pendatang Islam pertama di Pulau Dewata yang mampu memahami budaya Bali sekaligus mengakulturasikannya dengan budaya Islam tanpa harus kehilangan jati diri sebagai pemeluk Islam. “Dengan demikian kehidupan sosial antarumat umat Islam dengan penduduk lokal bisa terjaga,” ujarnya.

Ia memberi contoh bagaimana perayaan Maulud Nabi selalu ramai tak ubahnya pesta budaya Islam dan lokal. Hal ini karena umat Islam dulu paham betul bahwa melalui perayaan Maulud Nabi itulah dua budaya bisa disatukan tanpa merusak tatanan syariat Islam.
Peserta diskusi, Ali Musafa, menyatakan dalam mendekati budaya, ada dua prespektif yang berkembang, yaitu penolakan dan penerimaan. Dalam konteks membangun kerukunan, yang paling tepat melakukan penerimaan ketimbang penolakan.

Oleh karenanya, kata Ketut Abbas, jika umat Islam terutama tokoh-tokoh Islam ingin eksis di tengah pluralisme di Bali, maka “menjadi Bali” adalah sangat penting.
“Pemahaman terhadap budaya setempat sebagai strategi pengelolaan masyarakat mutlak dibutuhkan tokoh umat yang ingin tampil atau eksis. Politik simbol dan identitas harus diminimalisir,” kata Ketut Abbas menjawab pertanyaan peserta diskusi, Hary Sumarno. – nang.

Sumber: Koran Tokoh, Bali.
 

balimuslim.com | Panduan Wisata Bali untuk Wisatawan Muslim

Sebuah eBook untuk Wisatawan Muslim yang ingin ke Bali

Hanya Rp 25.000 atau USD 2 saja

Pembangunan/Renovasi Masjid

Musholla Al Hidayah

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours Tweets

Search


You are here: Home Artikel Muslim Bangun Kerukunan Antarumat Melalui Budaya

Thank you for choosing us