BaliMuslim.com

Pusat Informasi Muslim di Bali | Masjid | Rumah Makan Halal

balimuslim.com | Pusat Informasi Muslim Bali

Budaya Umat Muslim Jembrana
Budaya Umat Muslim Jembrana
"Makotekan" Sahur hingga Takbiran


SEPERTI lazimnya perayaan hari raya Idul Fitri di daerah lain, di beberapa desa/kelurahan di Jembrana yang umatnya mayoritas Muslim, juga merayakannya dengan sukacita. Sejumlah tradisi unik ditampilkan, bahkan sejak bulan Ramadan dimulai. Asimilasi budaya di Jembrana menjadikan sejumlah tradisi unik berkembang di Bumi Makepung ini.

Seperti terlihat di Kelurahan Loloan Barat, Jembrana. Dengan warga mayoritas umat Muslim yang merupakan keturunan Bugis, sejumlah budaya berbau Bugis masih kental di darah para generasi penerus hingga sekarang. Seperti saat menyambut hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah, beberapa waktu lalu, warga Kelurahan Loloan Barat memanfaatkan momentum ini dengan menggelar festival irama musik sahur yang memang rutin dilaksanakan setiap tahunnya.

Festival musik sahur ini mengetengahkan berbagai alat musik khas Loloan Barat. Alunan musik ini biasa diketengahkan warga untuk membangunkan warga lain menjelang sahur. Budaya ini bukan hanya berkembang di wilayah Loloan, melainkan melebar ke Cupel, Yeh Sumbul, Medewi dan kantong-kantong Muslim lain di Jembrana. Saking banyaknya grup makotekan ini, setiap tahun diadakan festival budaya ini.

Peserta pun bukan hanya terbatas orang dewasa, tetapi anak-anak ikut beratraksi dengan alat musik sederhana seperti kentongan dari bambu hingga alat-alat dapur. Dalam satu grup makotekan anggotanya sekitar 15 orang. Sejumlah grup menampilkan atraksi yang kental dengan nuansa Islami dengan jenis musik dangdut ataupun lagu berirama lainnya. Sembari memainkan alat-alat itu, para peserta rela berjalan kaki dengan menempuh jarak kurang lebih empat kilometer menyusuri rute di Loloan Barat dan Timur hingga Lelateng.

Salah seorang peserta dari kategori anak-anak, Ilham, mengaku dia bersama teman-temannya telah jauh-jauh hari mengadakan latihan dengan alat-alat musik seadanya, seperti kentongan dari bambu sampai alat-alat dapur. Alat-alat ini ia dapatkan dengan membuat sendiri, juga dengan meminta izin kepada orang tuanya untuk rela peralatan dapurnya seperti panci, sendok dan penggorengan dimanfaatkan sebagai alat musik. Tak jarang peserta lomba ada yang memanfaatkan ember dan galon untuk menghasilkan irama yang diharapkan. Alat musik khas Loloan lain seperti jidor, rebana, rapid, juga ditampikan sejumlah grup.

Adib Sukron, Ketua Pemuda Loloan Barat, mengatakan setiap bulan Ramadan festival ini sengaja digelar untuk memberikan motivasi berpartisipasi menjelang Idul Fitri. "Pemuda agar bisa berperan aktif dan menjadi pemuda-pemudi yang budiman, tidak berpikir ke hal-hal yang negatif saat berpuasa," ujarnya.

Selain itu, budaya malam takbiran (sebelum Idul Fitri) juga rutin digelar di setiap desa/kelurahan mayoritas Muslim. Selain diisi dengan iring-iringan warga yang mengumandangkan takbir, di setiap masjid juga digelar takbiran. Bahkan untuk mamacu, di beberapa masjid digelar lomba takbiran mengetengahkan kelompok-kelompok dengan berbagai instrumen seperti bedug dan rebana. (olo)

Sumber: Bali Post, 30 Agustus 2011
 

balimuslim.com | Panduan Wisata Bali untuk Wisatawan Muslim

Sebuah eBook untuk Wisatawan Muslim yang ingin ke Bali

Hanya Rp 25.000 atau USD 2 saja

Pembangunan/Renovasi Masjid

Musholla Al Hidayah

Facebook FanBox

Bali Muslim Tours Tweets

Search


You are here: Home Artikel Muslim Budaya Umat Muslim Jembrana

Thank you for choosing us